Manusia, adalah mahluk yang mempunyai ketergantungan sangat tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Manusia membutuhkan makanan, pakaian, rumah dan harta benda lainnya.

Bermacam-macam benda dibutuhkan untuk menunjang kehidupan manusia, sejak dilahirkan sampai meninggalkan alam fana. Namun, tidak usah khawatir, semua kebutuhan itu telah tersedia melimpah di hamparan alam semesta ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Alam menghasilkan bahan makanan juga untuk mahluk hidup lainnya seperti hewan dan ternak. Pada akhirnya, hewan dan ternak ini juga dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Betapa banyaknya manfaat yang kita peroleh berasal dari ternak. Daging, susu dan telur adalah bahan pangan berasal dari ternak. Begitu juga, tenaganya. Kuda dipelihara untuk diambil tenaganya sebagai penarik kendaraan. Bulu binatang tertentu seperti domba misalnya dapat digunakan untuk keperluan sandang seperti baju, pengisi bantal, permadani dan sebaginya. Untuk menghasilkan sesuatu, ternak mendapat pakan berupa rumput-rumputan dan biji-bijian yang berasal dari alam. Secara tidak langsung, kebutuhan manusia disediakan oleh alam melewati ternak. Tidak dapat dibantah lagi, baik secara langsung ataupun tidak langsung, kehidupan manusia tergantung pada alam.

Semua makanan dari mulai nasi sampai aneka lauk pauk yang lezat dapat tersaji di piring makan sehari-hari. Begitu juga dengan pakaian dan rumah yang akan melindungi tubuh dari panas, hujan dan penyakit. Ada satu syarat yang diperlukan untuk memenuhi semua kebutuhan itu. Kebutuhan yang telah tersedia di alam itu harus kita usahakan. Kita sebagai manusia yang dianugerahi akal dan pikiran melebihi mahluk Tuhan lainnya, harus mau bekerja keras. Bekerja keras sepanjang masa merawat alam pemberian Tuhan, supaya alam masih tetap dapat mengeluarkan bermacam-macam kebutuhan manusia. Menjaganya agar alam tidak rusak. Sebaliknya perusakan menyebabkan alam berkurang kekayaannya atau bahkan tidak mampu lagi mengeluarkan kebutuhan manusia.

Jangan sampai hal buruk terjadi. Oleh karena itu, disamping mengambil manfaat sebesar-besarnya dari alam, kita pun wajib melestarikannya. Alam yang lestari dapat dinikmati tidak hanya oleh kita, manusia yang hidup pada abad ini, tapi juga oleh manusia keturunan kita yang masih akan terus menghuni bumi ini berabad-abad ke depan. Konon, pada zaman dahulu kala, manusia memperoleh daging ternak dengan cara berburu. Saat itu jumlah manusia masih sedikit. Berburu dilakukan oleh kaum lelaki menggunakan senjata. Cara ini membutuhkan tenaga yang banyak. Seiring semakin pesatnya jumlah penduduk yang hidup di muka bumi dan juga semakin meningkatnya teknologi, manusia menemukan teknik beternak sebagai cara untuk memperoleh daging dari hewan.

Banyak hewan yang telah dijinakan, dipelihara dan dikembangbiakan untuk diambil manfaatnya. Salah satu hewan yang sudah sejak lama diternakan masyarakat Indonesia pada umumnya adalah ayam kampung. Tentu kalian telah mengenalnya. Di pedesaan, ayam ini masih banyak dipelihara. Kalian yang tinggal di kota pun suatu ketika tentu pernah pergi ke desa dan melihatnya. Ayam kampung mempunyai warna bulu yang sangat beragam, mulai dari warna putih, kuning, kemerahan, hitam , abu-abu dan yang paling banyak adalah kombinasi dari warna-warna tersebut

Berdasarkan sejarah, ayam telah dijinakan manusia sejak 6000 SM. Ayam ini sudah lama mengikuti manusia dimana pun tinggal. Hampir tidak ada penduduk yang tidak mengenal ayam kampung. Dapat dikatakan, asal tersedia makanan, ayam ini dapat hidup di sembarang tempat. Memang tidak persis demikian, ungkapan ini hanya menunjukan bahwa ayam kampung sudah lama dipelihara dan beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal manusia . Baru-baru ini tersiar kabar kurang menyenangkan mengenai perkembangan ayam kampung ini. Berita tentang mewabahnya kasus penyakit flu burung yang melanda sebagian peternakan unggas di berbagai dunia menyebabkan penurunan jumlah populasi ayam kampung. Ayam kampung yang merupakan salah satu asset plasma nutfah asli Indonesia sebagian turut dimusnahkanya. Sisi positif dari kejadian ini adalah kita, terutama peternak yang membudidayakan ayam kampung dituntut untuk semakin menjaga kebersihan dan kesehatan peternakan. Pencegahan penyakit seperti sanitasi kandang dan vaksinasi perlu dilakukan.

Sumber Gambar : https://www.masyarakatmandiri.co.id/program-sentra-ternak-sapi-perah-sukabumi/

Pada umumnya, ayam kampung masih dipelihara di pedesaan secara tradisional. Artinya, ayam dikandangkan, dilepaskan pada pagi hari dan akan kembali pada sore atau malam hari. Ada juga ayam yang tidak diberi kandang khusus, untuk bermalam ayam cukup bertengger di atas pohon. Ayam sering kehujanan. Tempat pakan dan minum yang digunakan seadanya, ayam pun sering kekurangan pakan karena harus mencari makan sendiri. Kadang-kadang ayam mencari makan di kebun, di sawah atau bahkan di pekarangan rumah orang lain yang bukan pemiliknya. Di daerah yang dekat dengan jalan raya tempat lalu lalang kendaraan bermotor, ayam yang tidak dikandangkan sering juga mati karena tertabrak. Dengan kata lain peternak kurang dapat mengawasi kecukupan makan dan kesehatan ayam. Apabila beruntung tidak mati, ayam menjadi sulit besar. Oleh karena itu, produksi telur ayam kampung sangat rendah. Dalam setahun, ayam betina dewasa hanya menghasilkan sekitar 60 butir telur/ekor/hari. Pertambahan berat badannya pun sangat lambat. Ayam baru dapat disembelih atau dipotong paling cepat setelah mencapai umur delapan bulan.

Lalu bagaimanakah cara meningkatkan hasil ternak ayam kampung ini? Baik untuk meningkatkan jumlah produksi telur ayam betina dewasa ataupun untuk mempercepat umur potong ayam kampung, dapat dilakukan dengan memperbaiki cara pemeliharaannya. Untuk itu, diperlukan teknik perkandangan, pemilihan bibit dan pemberian pakan serta penanganan kesehatan secara intensif yang dapat memperbaiki penampilan produksi ayam kampung menjadi lebih baik.

Seperti telah disinggung sebelumnya, aspek kesehatan seperti sanitasi dan vaksinasi perlu diperhatikan dengan benar. Sanitasi menyangkut kebersihan peralatan dan perlengkapan kandang yang digunakan untuk menjaga kesehatan ternak dan peternak serta lingkungan sekitar. Vaksinasi pada ayam kampung juga dilakukan untuk menjaga kesehatan ayam kampung dengan memberinya kekebalan tubuh. Kedua-duanya merupakan tindakan pencegahan datangnya penyakit. Dalam hal ini, berlaku ungkapan mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Peningkatan hasil produksi ayam kampung dengan teknik pemeliharaan yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan penghasilan, berupa laba yang mensejahterakan pemelihara. Manfaat apa sajakah yang diperoleh dari beternak ayam kampung?

Manfaat Beternak Ayam Kampung

1. Menghasilkan pangan sumber gizi

Telur dan daging ayam terkenal sebagai pangan bergizi tinggi. Telur dan daging ayam mengandung protein hewani yang cukup tinggi. Protein hewani adalah nutrisi yang diperlukan oleh tubuh untuk pertumbuhan, mengganti sel-sel tubuh yang rusak dan lain-lain. Telur dan daging ayam sangat baik dikonsumsi, terlebih-lebih untuk ibu hamil dan menyusui serta bayi dan balita yang sedang tumbuh.

2. Menghasilkan pendapatan

Telur dan daging ayam kampung bernilai jual relatif tinggi. Ayam kampung biasanya dijual per satuan ekor, sedangkan telurnya dijual satuan butir. Memelihara ayam kampung dalam jumlah banyak bisa menghasilkan telur dan daging yang banyak juga. Pendapatan diperoleh dengan menjual hasil utama berupa daging dan telur serta hasil sampingan berupa pupuk kotoran ayam.

3. Beternak ayam sebagai kesenangan

Banyak orang yang memelihara ternak bukan untuk mendapat pendapatan tetapi untuk mendapat kesenangan semata. Memelihara ayam pun bisa merupakan kesenangan. Melihat ayam sedang mematuk-matuk pakan, mengasuh anaknya, berkotek-kotek, ayam jantan berkokok atau pun anak-anak ayam yang bercicit-cicit bisa memberi kesenangan tersendiri. Untuk itu, ayam yang dipelihara umumnya ayam kampung hias. Karena itulah, tidak sedikit orang yang memelihara ayam tidak bertujuan mencari pendapatan tapi untuk mendapat keuntungan berupa kesenangan

%d bloggers like this: